5 Alasan Jangan Pernah Manjakan Anak Dengan Uang atau Harta


Alasan jangan manjakan anak dengan harta

Alasan jangan manjakan anak dengan harta – credit https://www.flickr.com/photos/stephanski/

Menjadi orang tua itu “aneh” menurut saya. Orang tua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak. Mereka mengisi hari-hari untuk memikirkan bagaimana caranya sang buah hati mendapatkan yang terbaik. Ada juga yang rela berpuasa ketika anaknya susah. Makanya saya bilang orang tua itu aneh. Seluruh hidupnya digunakan untuk memikirkan kebutuhan orang lain dahulu, baru dirinya. Terkadang karena terlalu sayang dengan anak, orang tua tidak mau anaknya susah, sedih atau marah sehingga saat anak minta apapun (tertutama materi) langsung dipenuhi. Inilah yang disebut dengan memanjakan. Wah kalau sudah di tahap ini sebaiknya kita waspada. Gaya parenting dengan memanjakan anak tidak sehat bagi keuangan keluarga karena hal-hal yang seharusnya jadi prioritas dikesampingkan demi memenuhi tuntutan dari anak (yang biasanya kurang penting). Anak juga bisa terkena dampak negatifnya lho. Rasa sayang kita malah bisa berbalik menyakiti orang yang paling kita sayang. Yuk kita lihat kenapa.

1. Anak menjadi tidak mandiri

terlalu dimanjakan anak jadi tidak mandiri

Terlalu dimanjakan anak jadi tidak mandiri – credit https://www.flickr.com/photos/48090400@N05/

Apa sih yang dimaksud dengan mandiri? Mandiri adalah ketika seseorang tidak bergantung pada orang lain. Sebenarnya bergantung pada orang lain itu merupakan hal lumrah karena manusia memang tidak pernah bisa hidup sendiri. Pasti ada saatnya kita memerlukan bantuan orang. Tapi menjadi tidak wajar bila setiap ada masalah selalu mengandalkan orang lain untuk menyelesaikannya.

Menghujani anak dengan segala sesuatu yang dia minta tanpa memberikan pengertian mengenai prioritas mana yang harus dipenuhi membuat dia ketagihan. Dia merasa nyaman karena tidak perlu merasa susah-susah berusaha untuk mewujudkan keinginannya, toh ada orang tua yang pasti memberi. Secara tidak sadar anak selalu mengandalkan orang tua dan tidak mengasah kemampuannya untuk membuat keputusan dan memenuhi kebutuhannya sendiri.  Orang yang tidak mandiri jelas tidak bisa mengelola keuangan dengan benar karena tidak bisa membedakan keinginan dan kebutuhan.

2. Membuat anak menganggap orang tua hanya sebagai kartu kredit berjalan

Manjakan dengan harta? Kamu akan dianggap seperti kartu kredit berjalan

Manjakan dengan harta? Kamu akan dianggap seperti kartu kredit berjalan – credit https://www.flickr.com/photos/smemon/

Satu hal yang membuat saya bingung, anak yang terlalu dimanja biasanya kurang menghormati orang tuanya. Mereka lebih mudah marah dan menyalahkan orang tua ketika orang tua tidak melakukan apa yang mereka mau. Dalam pemikiran saya, saat seseorang banyak diberi seharusnya dia akan bersikap lebih baik pada orang yang memberi karena merasa berutang budi. Tapi ternyata tidak. Anak bisa jadi hanya menganggap orang tua sebagai “pemuas” kebutuhan. Saat butuh mereka datang pada orang tua tapi bila tidak, mereka menelantarkan orang tua mereka. Sedih sekali ya. Tapi saya melihat sendiri hal seperti ini terjadi.

Saat masih ada orang tua mereka mungkin bisa menghabiskan uang orang tua mereka. Tapi saat orang tuanya sudah tidak bersama mereka, mereka harus membayarnya dengan masa depannya.

3. Anak memandang kehidupan hanya sebatas pada pemenuhan materi

Dimanjakan dengan uang, membuat anak berpikir hidup itu hanya tentang materi

Dimanjakan dengan uang, membuat anak berpikir hidup itu hanya tentang materi – credit https://www.flickr.com/photos/calliope/

Banyak wujud memanjakan anak, seperti membelikan kendaraan pribadi untuk anak dibawah umur, membelikan gadget yang sebetulnya bukan merupakan kebutuhan utama dan barang-barang lain yang tidak dibutuhkan. Biasanya juga barang-barang tersebut diberikan karena alasan sepele yang biasanya datang karena tekanan sosial seperti gengsi, takut dibilang nggak gaul, malu sama pacar dan lain-lain. Memanjakan bisa dilakukan orang tua dari segala tingkatan ekonomi. Tidak jarang juga orang tua dengan penghasilan pas-pasan masih harus kredit motor untuk anaknya yang masih di bawah umur karena mengancam tidak mau sekolah jika tidak dibelikan motor.

Hal seperti ini bisa menggiring anak untuk memiliki mindset bahwa materi adalah sumber kebahagiaan karena itu adalah syarat supaya dia diterima dalam lingkungan sosial. Dan saat seseorang bergantung pada materi ia tidak akan pernah merasa puas. Seharusnya manusia lah yang mengendalikan materi tapi yang terjadi malah materi yang mengendalikan manusia.

4. Semangat juang anak rendah

Terlalu dimanja, anak jadi mudah menyerah

Terlalu dimanja, anak jadi mudah menyerah – https://www.flickr.com/photos/dionnehartnett/

Tidak heran anak tidak mau berjuang. Dia tahu pasti ada orang tua yang akan menopang dia secara finansial. Saya belum pernah melihat ada orang yang sukses dengan cara dimanjakan. Mungkin dia kaya karena mewarisi harta orang tuanya, tapi belum tentu secara batin dia bahagia. Apa gunanya harta bila kita tidak bahagia?

5. Kita sebagai orang tua tidak bisa menikmati “buah” dari apa yang kita tanam

Uang bukan yang terpenting. Kasih sayang dan kebersamaan adalah kuncinya.

Uang bukan yang terpenting. Kasih sayang dan kebersamaan dengan anak adalah kuncinya – credit https://www.flickr.com/photos/58621196@N05/

Kalau ada orang tua yang mem-posting foto anaknya yang baru lahir atau saat berulang tahun pasti yang tertulis di keterangan foto adalah doa-doa baik untuk anak. Biasanya kita berharap semoga ia menjadi orang yang bermanfaat, sukses, pintar, membanggakan orang tua dan sebagainya.

Bukankah para orangtua ingin di masa tua istirahat dan melihat semua doanya terwujud?

Tapi apa iya bisa terwujud bila ia dimanjakan?  Kita malah akan menanggung perekonomian anak kita sampai tua karena sang anak begitu bergantung pada orang tua. Kalau anak terikat batin dengan orang tuanya itu merupakan hal yang indah. Tapi kalau terikat secara materi bisa beda lagi hasilnya.

Tips:

Terus berikan apa yang terbaik untuk anak, penuhi kebutuhan utamanya dahulu (pendidikan yang bagus, makanan sehat). Lebih baik uang dihabiskan untuk pendidikan daripada untuk membelikan barang-barang konsumtif. Komunikasikan dengan baik tentang prioritas kebutuhan. Dan yang paling penting kita harus memberikan teladan dulu. Kalau kita masih belanja sembarangan tapi menasehati anak supaya tidak minta ini itu kemungkinan ucapan kita hanya dianggap angin lalu.

Semua tergantung pada keputusan yang diambil oleh kita para orang tua.Tidak ada patokan yang pasti untuk seberapa banyak kita memberi anak. Tapi segala sesuatu yang didasari cinta yang tulus pasti akan terpancar dari perbuatan kita pada anak. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang lebih baik ya.


Author Image

About Mrs. Rafael Uhemat

Mrs. Rafael adalah istri dari Mr. Rafael. Seorang ibu rumah tangga yang ingin menerapkan pengelolaan keuangan yang baik bagi rumah tangganya. Dia dan suaminya berharap dapat menanamkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan pribadi yang baik ke pada anak-anaknya dan menginspirasi keluarga-keluarga lainnya tentang hal yang sama.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *