Sewa atau Beli Rumah? Mana yang Harus Dipilih?


Sewa atau beli rumah? pilih yang mana?

Sewa atau beli rumah? pilih yang mana?

Halo, Mrs. Rafael is back. Kali ini yang akan dibahas adalah soal mengontrak rumah. Pernah nggak kamu-kamu para “kontraktor” alias yang masih ngontrak rumah dengar kalimat “Daripada ngontrak mendingan duitnya buat nyicil rumah deh.” Dan kemudian diiringi alasan “Kalau ngontrak duitnya ilang, tapi kalau nyicil nanti duitnya jadi berwujud rumah”.

Mungkin ada dari kita dengan alasan tidak ingin membuang-buang uang tersebut memutuskan ingin cepat-cepat punya rumah tanpa perhitungan yang matang dan memperhatikan kemampuan finansial kita.

Rumah merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Setiap orang pasti memimpikan punya tempat berteduh yang nyaman. Sudah lama tertanam dalam alam bawah sadar kita bahwa saat dewasa kita harus punya rumah (dalam artian membeli rumah). Apapun alasannya, yang jelas rumah harus masuk dalam list belanjaan kita, termasuk saya.

Tapi sejujurnya Mrs. Rafael mulai mempertanyakan konsep ini karena jaman sudah jauh berbeda. Apakah memang kita harus memiliki rumah, apapun yang terjadi, apapun kondisi kita? Membeli rumah tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang baik maupun yang buruk. Semua tergantung situasi. Ada situasi dimana membeli rumah merupakan langkah yang tepat ataupun ide yang buruk. Disini Mrs. Rafael akan membagikan pengalaman ketika memutuskan membeli atau menyewa rumah.

Buat Mrs Rafael dan suami tentunya, keputusan mengenai rumah ini merupakan salah satu yang paling penting. Pertama, karena dana yang terbatas. Bagi kami membeli rumah tidak segampang beli cilok. Salah keputusan bisa mempengaruhi kualitas hidup kami seumur hidup. Ada pepatah yang mengatakan bahwa keputusan hari ini akan menentukan masa depan. Ketika uang belum cukup namun kami memaksakan untuk beli rumah, maka kami harus menghabiskan waktu selama kira-kira 20 tahun (lama cicilan rumah pada umumnya) untuk menikmati gaji yang hanya tinggal 40% karena dipotong (baru) untuk cicilan.

Selama 20 tahun apa saja mungkin terjadi. Rumah butuh renovasi, PHK, anggota keluarga sakit dan karena uang habis untuk cicilan, kita tidak punya asuransi dan harus membayar biaya pengobatan yang mahal. Setelah 20 tahun apakah kita akhirnya bisa menikmati hidup? Kita mungkin saja harus membayar utang karena gaji yang 40% tersebut tidak bisa menutup semua pengeluaran setiap bulan selama 20 tahun.

Kedua, rumah menjadi semacam pelabuhan bagi saya dan keluarga, tempat kami pulang, istirahat, menciptakan kenangan indah dengan keluarga. Kami ingin pelabuhan tersebut nyaman, aman dan jika memungkinkan dekat dengan tempat bekerja ataupun sekolah anak-anak. Agaknya sulit mendapatkan tempat seperti ini jika memilih dengan terburu-buru.

Setelah melihat pengalaman orang di sekitar saya, membaca beberapa analisis keuntungan dan kerugian membeli atau menyewa rumah dan tentu saja menganalisis kemampuan finansial keluarga saya, saya baru berani mengambil keputusan. Sejauh ini saya masih nyaman dengan menyewa rumah dan bisa dibilang bahwa this decision suits me the best. Nah berdasarkan pertimbangan dari berbagai sumber di atas, menurut saya,

Membeli lebih tepat jika:

1. Keuangan sudah stabil

Bukan menunggu kita harus punya uang banyak dulu namun ada pemasukan tetap setiap bulannya. Tidak cuma itu, kita juga sudah memiliki back-up plan yang matang seperti emergency fund, yakni dana darurat yang bisa digunakan ketika hal yang tidak diinginkan terjadi sewaktu-waktu. Dana darurat setidaknya senilai 3-6 kali pengeluaran per bulan.

Contoh, bagi Mrs, Rafael,  ketika pemasukan keluarga sebenarnya sudah cukup untuk mulai mencicil KPR. Tapi kami memutuskan bahwa belum saatnya karena kami sadar tidak banyak yang bisa kami lakukan ketika ada hal lain yang membutuhkan biaya lebih karena semua uang sudah terkonsentrasi pada cicilan.

Tapi ada keluarga lain juga walaupun pas-pasan tapi berhasil juga mencicil rumah. Tapi sebagai pay-off mereka berhutang untuk menutup kekurangan operasional rumah tangga. Berutang sebenarnya bukan hal negatif, malah bisa menguntungkan KALAU dimanage dengan benar. Sementara Mrs. Rafael jujur belum bisa manage hal satu ini dan yakin jika saya sudah ada di “zona nyaman” berutang maka akan susah keluar. Ya, berutang bisa menciptakan zona nyaman juga loh.

2. Ingin menetap di suatu kota

Jika sudah pasti ingin menetap di suatu tempat selama puluhan tahun, membeli rumah bisa jadi pertimbangan. Tapi tidak bagi orang-orang seperti Mrs. Rafael. Kebetulan saya masih ingin nomaden. Beruntungnya suami juga merasakan hal yang sama dan pekerjaan pun mendukung.

Kami ingin tinggal di beberapa kota dan merasakan tinggal di lingkungan yang berbeda sebelum memutuskan untuk menetap di suatu daerah. Kami sadar kalau cicilan rumah pasti akan menahan kami untuk bertualang.

3. Cicilan tidak lebih dari 40% pemasukan

Pernah dengar pos pembagian pengeluaran rutin? Itu adalah pengelompokan pengeluaran kita setiap bulan. Walaupun ada banyak versi, kira-kira pos pengeluaran dibagi menjadi 5 yakni tabungan/investasi, cicilan, pengeluaran rutin, pengeluaran senang-senang dan yang terakhir dana darurat. Pos-pos ini harus punya persentase yang proporsional.

Cobalah membuat pengelompokan ini untuk mengukur seberapa besar kemampuan kita dalam mencicil rumah. Idealnya cicilan rumah tidak lebih dari 40% penghasilan dan ada tabungan/investasi selain rumah. Jika kita tahu kemampuan kita maka kita akan tahu apakah keputusan yang kita ambil untuk membeli rumah termasuk bijak atau tidak.

Apakah berarti kita tidak bisa beli rumah bila cicilan lebih besar dari nilai idealnya? Bisa sih tapi kita dihadapkan pada risiko yang lebih besar dibanding dengan yang cicilannya masuk dalam range ideal. Pilihan ada pada kita.

4. Sudah memiliki asuransi kesehatan dan jiwa

Kenyataannya biaya untuk kesehatan memang mahal. Mau ikut asuransi atau bayar sendiri sama-sama mahal. Tapi keuntungan asuransi kesehatan, biaya yang dicover bisa melebihi premi yang kita bayar. Jika ada asuransi, setidaknya kita tahu bahwa ada dana yang bisa digunakan ketika sakit.

Jika belum memiliki keempat poin ini lebih baik kita menyewa rumah sambil melakukan investasi jenis lainnya. Tapi semua keputusan tentu dikembalikan pada pertimbangan pribadi. Yang jelas kita harus cerdas dalam menentukan langkah finansial kita. Good luck!


Author Image

About Mrs. Rafael Uhemat

Mrs. Rafael adalah istri dari Mr. Rafael. Seorang ibu rumah tangga yang ingin menerapkan pengelolaan keuangan yang baik bagi rumah tangganya. Dia dan suaminya berharap dapat menanamkan prinsip-prinsip pengelolaan keuangan pribadi yang baik ke pada anak-anaknya dan menginspirasi keluarga-keluarga lainnya tentang hal yang sama.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *